belajar dan berbagi

Troni Si Anak Beruang

Troni Si Anak Beruang

Troni Si Anak Beruang
Troni seekor anak beruang yang lucu dan gagah. Namun tampak wajahnya sedang sedih. Ia merasa sekarang orang tuanya sudah tak menyayanginya lagi.
Hari ini, Troni hanya diberi makan sedikit oleh orang tuanya. Ia tak tahu bahwa orang tuanya sedang mengajarinya untuk mandiri. Selama ini Troni hanya bermain saja, ia tak mau mencoba mencari makan sendiri.
Suatu hari, Troni bangun dari tidurnya dan tidak melihat orang tuanya. Ia kaget sekali, dicarinya kesana-kemari dengan panik. Namun ia tak dapat menemukan kedua orang tuanya.
Setelah lelah mencari ia beristirahat di sebuah gua. Tanpa diketahuinya, ternyata di dalam gua tersebut ada seekor ular. Troni menoleh ke belakang karena merasa ada sesuatu yang bergerak.
Melihat ada binatang lain langsung meloncat dengan gugup. Ular yang ganas itu mendekati Troni dan bersikap untuk menyerang. Dalam keadaan terpojok, Troni mengayunkan cakarnya sembarangan.
Troni panik, ia mengayunkan cakarnya secepat mungkin. Ia tak tahu apakah serangannya akan berhasil mengusir ular itu. Tanpa disangka cakaran Troni melukai mata ular tersebut.
Ular itu tampaknya kesakitan. Dengan cepat ia melarikan diri. Troni juga tak kalah takutnya, ia keluar gua dengan terbirit-birit. Troni lari menuju hutan di sebelah selatan gua tersebut.
Hutan tersebut masih sangat asing bagi Troni. Nafasnya terengah-engah karena ia berlari sekuat-kuat tenaga. Akhirnya ia berhenti di tepi sebuah sungai.
Ia bersandar pada sebatang pohon. Tubuhnya lemas karena kelelahan dan lapar. Tenggorokannya kering kerena kehausan.
Perlahan-lahan ia berjalan mendekati sungai. Dihirupnya air sungai yang jernih itu, ia merasa lebih segar. Tetapi sekarang perutnya sudah melilit karena sangat lapar.
Biasanya orang tuanya mencari makan di sungai yang banyak ikannya. Troni mencoba berjalan ke air yang lebih dalam. Ia melihat banyak ikan yang berenang-renang di dalamnya.
Troni mengejar ikan-ikan itu, namun semuanya berlarian. Dicobanya lagi dengan mengandalkan kecepatan gigi dan cakarnya. Sampai akhirnya Troni berhasil menggigit seekor ikan yang cukup besar.
Perlahan-lahan ia menuju ke sungai. Troni sangat girang, dibawanya ikan tersebut ke tempat yang kering. Dengan lahap Troni memakan ikan yang berhasil diperolehnya dengan susah payah.
Hari mulai gelap, Troni sangat rindu dengan kedua orang tuanya. Namun ia tak tahu jalan untuk kembali. Akhirnya Troni tertidur di bawah pohon karena kelelahan.
Pagi-pagi benar Troni terbangun dengan badan yang sudah segar. Ia mulai menangkap ikan lagi, kali ini ia sudah lebih cekatan menangkap ikan. Dalam waktu yang singkat Troni sudah berhasil menangkap ikan yang gemuk.
Saat naik ke tempat kering, orang tuanya Troni sudah menanti. Mereka tampak gembira karena Troni sudah dapat mencari makan sendiri. Dengan bangga Troni memperlihatkan ikan yang baru saja ditangkapnya.

Mata Mungil yang Menyimpan Dunia

Cerpen Agus Noor
Selalu. Setiap pagi. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya, ia selalu melihat bocah itu tengah bermainmain di kolong jalan layang. Kadang berloncatan, seperti menjolok sesuatu. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar, seolah ada yang perlahan tumbuh dari celCeritaah conblock.
Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat, Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakan-teriakan bocah itu, saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil, agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka.
Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. Usianya paling 12 tahunan. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. Selalu bercelana pendek kucel. Berkoreng di lutut kirinya. Dia tak banyak beda dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari bocah itu. Dan itu kian Gustaf rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya, agar ia bisa berlama-lama menatap sepasang mata itu.
Memandang mata itu, Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan.
Hingga ia merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Tiang listrik
dan lampu jalan menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. Tak ada keruwetan,
karena jalanan telah menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam.
Jembatan penyeberangan di atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan
gedung-gedung yang telah berubah perbukitan hijau. Dari retakan trotoar perlahan
tumbuh bunga mawar, akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar
pembatas jalan, kerakap tumbuh di dinding penyangga jalan tol. Gustaf terkejut ketika
tiba-tiba ia melihat seekor bangau bertengger di atas kotak pos yang kini tampak
seperti terbuat dari gula-gula. Air yang jernih dan bening mengalir perlahan, seakan-
akan ada mata air yang muncul dari dalam selokan. Kicau burung terdengar dari
pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light.
Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. Ia menurunkan kaca mobilnya, menghirup
lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Tapi pada saat itulah ia
terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. Beberapa
pengendara sepeda motor yang menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. Seorang
polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya
dan melaju. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. Ia tak pernah menyangka
betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. Itu
sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. Ia menyukai bermacam warna dan
bentuk mata boneka-boneka koleksinya. Ia suka menatapnya berlama-lama. Dan itu
rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi homoseks seperti
5
“Proses Pengamatan Cerita Secara Struktural”





Oom Ridwan, yang kata Mama, sewaktu kanak-kanak juga menyukai boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. Berminggu-minggu mengikuti terapi, ia selalu disuruh menggambar. Dan ia selalu menggambar mata. Sering ia menggambar mata yang bagai liang hitam. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu; mata dengan sebilah pisau yang menancap; atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska.
Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. Ia ingat perkataan Oma, saat ia berusia tujuh tahun, ”Mata itu seperti jendela hati. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya….” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Tapi Papa kerap menghardik, ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang.
Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka, tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata orang-orang yang dijumpainya. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah memandangi mata seseorang cukup lama, hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat menyingkir. Setiap menatap mata seseorang, Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung, pecahan kaca yang menancap di kornea, kawat berduri yang terjulur panjang, padang gersang ilalang, pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian yang menggantung.
Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. Mata yang penuh kemarahan. Mata yang berkilat licik. Mata yang tertutup jelaga kebencian. Karena itu, Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. Rasanya, itulah mata paling indah yang pernah Gustaf tatap. Begitu bening begitu jernih. Mata yang mungil tapi bagai menyimpan dunia.
Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. Mata itu membuat dunia jadi terlihat berbeda. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih banyak warna. Setiap kali terkenang mata itu, setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya.
Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal, Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah, seperti mata bocah itu. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. Membuat Gustaf berpikir, bisa jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. Dan ia makin ingin memiliki mata itu. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda….
Gustaf kini bisa mengerti, kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia
tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. Bocah itu sering
berloncatan—sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di
matanya. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang
merendah bagai hendak hinggap kepalanya, hingga ia mengibas-kibaskan tangan
menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. Ketika berjongkok, pastilah
6
“Proses Pengamatan Cerita Secara Struktural”



bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. Semua itu hanya mungkin, karena mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. Atau karena mata mungil itu memang menyimpan sebuah dunia.
Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu, batin Gustaf. Apa yang kini ia
pandangi akan terlihat beda. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh
menjadi madu. Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. Di
lengkung selendang sutra yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat
kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan
muncul seekor kupu-kupu. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak
merayap di atas meja. Eceng gondok tumbuh di lantai yang digenangi air bening.
Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di mana anak-anak berebutan
ingin menaikinya. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi, bambu apus tumbuh di
dekat pakaian yang dipajang. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang
berjuntaian….
Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah itu. Bila ia bisa memiliki mata itu, ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik, menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu buatnya. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. Apa pun akan Gustaf lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. Bila perlu ia menculiknya. Terlalu banyak anak jalanan berkeliaran, dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang.
Gustaf tersenyum. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu!
Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. Ia ingin ketika ia muncul kembali, semuanya sudah tampak sempurna. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti mata, pikirnya. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. Semua orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia.
Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya, ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan terjulur ke arah jalan. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu. Ia ingin membuka jendela, dan melemparkan recehan, tapi segera ia urungkan karena merasa percuma.
Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. Beberapa orang malah terlihat melotot tak percaya. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya. Gustaf terkesima memandang sekelilingnya….

Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift.

7
“Proses Pengamatan Cerita Secara Struktural”





Begitu lift itu tertutup, seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas, sambil berbicara kepada temannya.
”Kamu lihat mata tadi?”
”Ya.”
”Persis mata iblis!”


Jakarta, 2006

Piknik

Cerpen : Agus Noor
Para pelancong mengunjungi kota kami untuk menyaksikan kepedihan. Mereka datang untuk menonton kota kami yang hancur. Kemunculan para pelancong itu membuat kesibukan tersendiri di kota kami. Biasanya kami duduk-duduk di gerbang kota menandangi para pelancong yang selalu muncul berombongan mengendarai kuda, keledai, unta, atau permadani terbang dan juga kuda sembrani. Mereka datang dari segala penjuru dunia. Dari negeri-negeri jauh yang gemerlapan.
Di bawah langit senja yang kemerahan kedatangan mereka selalu terlihat bagaikan
siluet iring-iringan kafilah melintasi gurun perbatasan, membawa bermacam perbekalan piknik. Berkarung-karung gandum yang diangkut gerobak pedati, daging
asap yang digantungkan di punuk unta terlihat bergoyang-goyang, roti kering yang
disimpan dalam kaleng, botol-botol cuka dan saus, biskuit dan telor asin, rendang
dalam rantang—juga berdus-dus mi instan yang kadang mereka bagikan pada kami.
Penampilan para pelancong yang selalu riang membuat kami sedikit merasa terhibur.
Kami menduga, para pelancong itu sepertinya telah bosan dengan hidup mereka yang
sudah terlampau bahagia. Hidup yang selalu dipenuhi kebahagiaan ternyata bisa
membosankan juga. Mungkin para pelancong itu tak tahu lagi bagaimana caranya
menikmati hidup yang nyaman tenteram tanpa kecemasan di tempat asal mereka.
Karena itulah mereka ramai-ramai piknik ke kota kami: menyaksikan bagaimana
perlahan-lahan kota kami menjadi debu. Kami menyukai cara mereka tertawa, saat
mereka begitu gembira membangun tenda-tenda dan mengeluarkan perbekalan, lalu
berfoto ramai-ramai di antara reruntuhan puing-puing kota kami. Kami seperti
menyaksikan rombongan sirkus yang datang untuk menghibur kami.
Kadang mereka mengajak kami berfoto. Dan kami harus tampak menyedihkan dalam
foto-foto mereka. Karena memang untuk itulah mereka mengajak kami berfoto
bersama. Mereka tak suka bila kami terlihat tak menderita. Mereka menyukai wajah
kami yang keruh dengan kesedihan. Mata kami yang murung dan sayu. Sementara
mereka—sembari berdiri dengan latar belakang puing-puing reruntuhan kota—
berpose penuh gaya tersenyum saling peluk atau merentangkan tangan lebar-lebar.
Mereka segera mencetak foto-foto itu, dan mengirimkannya dengan merpati-merpati
pos ke alamat kerabat mereka yang belum sempat mengunjungi kota kami.
Belakangan kami pun tahu, kalau foto-foto itu kemudian dibuat kartu pos dan
diperjualbelikan hingga ke negeri-negeri dongeng terjauh yang ada di balik pelangi.
Pada kartu pos yang dikirimkannya itu, para pelancong yang sudah mengunjungi kota
kami selalu menuliskan kalimat-kalimat penuh ketakjuban yang menyatakan betapa
terpesonanya mereka saat menyaksikan kota kami perlahan-lahan runtuh dan lenyap.
Mereka begitu gembira ketika melihat tanah yang tiba-tiba bergetar. Bagai ada naga
menggeliat di ceruk bumi—atau seperti ketika kau merasakan kereta bawah tanah
melintas menggemuruh di bawah kakimu. Betapa menggetarkan melihat pohon-
pohon bertumbangan dan rumah-rumah rubuh menjadi abu. Membuat hidup para
pelancong yang selalu bahagia itu menjadi lengkap, karena bisa menyaksikan segala
sesuatu sirna begitu saja.
2
“Proses Pengamatan Cerita Secara Struktural”




Kumpulan Cerpen 1
Bagi para pelancong itu, kota kami adalah kota paling menakjubkan yang pernah
mereka saksikan. Mereka telah berkelana ke sudut-sudut dunia, menyaksikan beragam
keajaiban di tiap kota. Mereka telah menyaksikan menara-menara gantung yang
dibuat dari balok-balok es abadi, candi-candi megah yang disusun serupa tiara;
menyaksikan seekor ayam emas bertengger di atas katedral tua sebuah kota yang
selalu berkokok setiap pagi. Mereka juga telah melihat kota dengan kanal-kanal yang
dialiri cahaya kebiru-biruan. Kepada kami para pelancong itu juga bercerita perihal
kota kuno yang berdiri di atas danau bening, dengan rumah-rumah yang beranda-
berandanya saling bertumpukan, dan jalan-jalannya yang menyusur dinding-dinding
menghadap air, hingga menyerupai kota yang dibangun di atas cermin; kota dengan
jalan layang menyerupai jejalin benang laba-laba; sebuah kota yang menyerupai
benteng di ujung sebuah teluk, dengan jendela-jendela dan pintu-pintu yang selalu
tertutup menyerupai gelapanggur dan hanya bisadilihat ketika senja kala. Bahkan
mereka bersumpah telah mendatangi kota yang hanya bisa ditemui dalam imajinasi
seorang penyair. Tapi kota kami, menurut mereka, adalah kota paling ajaib yang
pernah mereka kunjungi.
Para pelancong menyukai kota kami karena kota kami dibangun untuk menanti keruntuhan. Banyak kota dibangun dengan gagasan untuk sebuah keabadian, tetapi tidak dengan kota kami. Kota kami berdiri di atas lempengan bumi yang selalu bergeser. Kau bisa membayangkan gerumbul awan yang selalu bergerak dan bertabrakan, seperti itulah tanah di mana kota kami berdiri. Membuat semua bangunan di kota kami jadi terlihat selalu berubah letaknya. Barisan pepohonan seakan berjalan pelan. Lorong-lorong, jalanan, dan sungai selalu meliuk-liuk. Dan ketika sewaktu-waktu tanah terguncang, bangunan dan pepohonan di kota kami saling bertubrukan, rubuh dan runtuh menjadi debu—serupa istana pasir yang sering kau buat di pinggir pantai ketika kau berlibur menikmati laut.
Rupanya itulah pemandangan paling menakjubkan yang membuat para pelancong itu
terpesona. Para pelancong itu segera menghambur berlarian menuju bagian kota kami
yang runtuh, begitu mendengar kabar ada bagian kota kami yang tergoncang porak-
poranda. Dengan handycam mereka merekam detik-detik keruntuhan itu. Mereka
terpesona mendengar jerit ketakutan orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri,
gemeretak tembok-tembok retak, suara menggemuruh yang merayap dalam tanah.
Itulah detik-detik paling menakjubkan bagi para pelancong yang berkunjung ke kota
kami; seolah semua itu atraksi paling spektakuler yang beruntung bisa mereka
saksikan dalam hidup mereka yang terlampau bahagia. Lalu mereka memotret mayat-
mayat yang tertimbun balok-balok dan batu bata. Mengais reruntuhan untuk
menemukan barang-barang berharga yang bisa mereka simpan sebagai kenangan.
Saat malam tiba, dan bintang- bintang terasa lebih jauh di langit hitam, para pelancong
itu bergerombol berdiang di seputar api unggun sembari berbagi cerita. Memetik
kecapi dan bernyanyi. Atau rebahan di dalam tenda sembari memainkan harmonika.
Dari kejauhan kami menyaksikan mereka, merasa sedikit terhibur dan tak terlalu
merasa kesepian. Bagaimanapun kami mesti berterima kasih karena para pelancong itu
mau berkunjung ke kota kami. Mereka membuat kami semakin mencintai kota kami.
Membuat kami tak hendak pergi mengungsi dari kota kami. Karena bila para


3
“Proses Pengamatan Cerita Secara Struktural”




Kumpulan Cerpen 1
pelancong itu menganggap kota kami adalah kota yang penuh keajaiban, kenapa kami
mesti menganggap apa yang terjadi di kota kami ini sebagai malapetaka atau bencana?
Seperti yang sering dikatakan para pelancong itu pada kami, setiap kota memang memiliki jiwa. Itulah yang membuat setiap kota tumbuh dengan keunikannya sendirisendiri. Membuat setiap kota memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Keajaiban tersendiri. Setiap kota terdiri dari gedung- gedung, sungai-sungai, kabut dan cahaya serta jiwa para penghuninya; yang mencintai dan mau menerima kota itu menjadi bagian dirinya. Kami sering mendengar kota-kota yang lenyap dari peradaban, runtuh tertimbun waktu. Semua itu terjadi bukan karena semata-mata seluruh bangunan kota itu hancur, tetapi lebih karena kota itu tak lagi hidup dalam jiwa penghuninya. Kami tak ingin kota kami lenyap, meski sebagian demi sebagian dari kota kami perlahanlahan runtuh menjadi debu. Karena itulah kami selalu membangun kembali bagianbagian kota kami yang runtuh. Kami mendirikan kembali rumah-rumah, jembatan, sekolah, tower dan menara, rumah sakit-rumah sakit, menanam kembali pohonpohon, hingga di bekas reruntuhan itu kembali berdiri bagian kota kami yang hancur. Kota kami bagaikan selalu muncul kembali dari reruntuhan, seperti burung phoenix yang hidup kembali dari tumpukan abu tubuhnya.
Kesibukan kami membangun kembali bagian kota yang runtuh menjadi tontonan juga
bagi para pelancong itu. Sembari menaiki pedati, para pelancong itu berkeliling kota
menyaksikan kami yang tengah sibuk menata reruntuhan. Mereka tersenyum dan
melambai ke arah kami, seakan dengan begitu mereka telah menunjukkan simpati
pada kami. Sesekali para pelancong itu berhenti, membagikan sekerat biskuit,
sepotong dendeng, sebotol minuman, atau sesendok madu— kemudian kembali pergi
untuk melihat-lihat bagian lain kota kami yang masih bergerak bertabrakan dan
hancur. Kemudian para pelancong itu pergi dengan bermacam cerita ajaib yang akan
mereka kisahkan pada kebarat dan kenalan mereka yang belum sempat mengunjungi
kota kami. Mereka akan bercerita bagaimana sebuah kota perlahan- lahan hancur dan
tumbuh kembali. Sebuah kota yang akan mengingatkanmu pada yang rapuh,
sementara, dan fana. Sebuah kota yang membuat para pelancong berdatangan ingin
menyaksikannya.
Bila kau merencanakan liburan akhir pekan—dan kau sudah bosan piknik ke kota-kota
besar dunia yang megah dan gemerlap—ada baiknya kau berkunjung ke kota kami.
Jangan lupa membawa kamera untuk mengabadikan penderitaan kami. Mungkin itu
bisa membuatmu sedikit terhibur dan gembira. Berwisatalah ke kota kami. Jangan
khawatir, kami pasti akan menyambut kedatanganmu dengan kalungan bunga-air
mata…

Yogyakarta, 2006

CATATAN:
1) Deskripsi kota-kota dalam paragraf ini mengacu pada karya Italo Calvino, Invisible Cities—telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Kota-kota Imajiner, oleh Erwin Salim (Fresh Book, 2006)


Cerpen Piknik Oleh Agus Noor
Tiang Bungkuk, Nugo Rajo Mati Jenang 40

Tiang Bungkuk, Nugo Rajo Mati Jenang 40

Raja Kerinci bernama tiang bungkuk dahulu orang kerinci nakal apapun yang menghadap ke jambi diputarnya menghadap kepadang hal ini didenganr oleh raja tanah pilih, oleh kerena itu maka raja tanah pilih mengutus jenang (pasukan) sebanyak 40 orang kekerinci tidak sekaligus, namun tiap kali jenang yang dikirim tidak pernah kembali lagi ke Jambi.

Melihat hal ini raja tanah pilih berunding dengan hagajah mereka berkata “ kalau seperti ini kita akan habis, hilang satu per satu” maka diputuskan untuk mengutus hagajah kekerinci dengan imbalan “apabila hagajah bias menangkap tiang bungkuk maka hagajah akan menjadi raja dari tembesi sampai kerinci”
Tiang bungkuk
mempunyai 2 senjata yaitu :
- Sikin
- Kada sari
“ dihalak anjing 7 salak 1 kali salak 7 bunyi “ yang didapat pada waktu berburu.
Sesampainya hagajah dikerinci mereka perang, waktu perang tiang bungkuk menjelma menjadi elang sedangkan hagajah menjelma menjadi pulut, pada saat tiang bungkuk menjelma menjadi duri maka hagajah menjadi parang.
Setelah lelah berperang maka tiang bungkuk pergi mandi, pada saat tiang bungkuk mandi maka hagajah menjelma menjadi baju putih yang tersangkut. Saat naik selesai manditiang bungkuk menyarungkan bajunya maka hagajah mengikatnya kebeakang. Tiang bungkuk diikat dibukit dan hagajah membuat perahu dari kulit gaharu (kemenyan), setelah siap perahu yang dibuat hagajah maka tiang bungkuku diikat dibawah perahu dan mereka berlayar sampai ke tanah pilih tiang bungkuk diserahkan kekerajaan.
Setelah 1 minggu tiang bungkuk dipenjara maka dia rindu pada masakan istrinya dikerinci, maka dipesankan kue dari kerinci dan datanglah kiriman dari kerinci yaitu lemang sebatang, papunte 1 bungkus. Sebelum diserahkan ke tiang bungkuk hagajah berkata periksa dulu kiriman itu maka didapatkan dalam lemang skin dan dalam papunte ditemukan kada sari. Setelah semua diperiksa dan akan diserahkan kepada tiang bungkuk maka dia enggan untuk memakannya karena tidak mau makan sisa padahal tiang bungkuk tau bahwa senjatanya telah dirampas orang.

lebih lengkap coba lihat disini

atau

Keris Siginjai

Keris Siginjai

Orang kayo gemuk merupakan anak dari datuk tumenggung rajo api dari padang, karena persaingan untuk mendapatkan putri selaro pinang masak yang memenangkan persainganan itu rang kayo itam maka rang kayo gemuk berkeinginan untuk membunuh raja tanah pilih yaitu rang kayo itam, dan cara untuk membunuh rang kayo itam hanya dengan keris siginjai.

Maka rang kayo gemuk membuat keris siginjai dari besi pa sembilan pa besi 7 buah kapal. Perihal ini telah diketahui oleh hagajah yang merupakan penasehat dari rang kayo itam, maka hagajah menasehati padukanya dengan mengatakan “ tuah patih hendaklah berubah menjadi orang buruk untuk mengulang membuat keris tersebut” maka pergilah rang kayo itam menjadi orang buruk dan bekerja dengan rang kayo gemuk. Setelah lama bekerja akhirnya sampai pada tahap penyepuhan. Ramg kayo gemuk mengatakan pada orang buruk bahwa besok akan menyepuh keris tersebut menggunakan matahari maka orang buruk harus datang pagi-pagi.
Setelah keris siginjai di sepuh halus maka orang buruk berkata kepada rang kayo gemuk “tuan izin kan hamba melihat keris yang sakti itu “ maka di serahkan lah keris tersebut oleh rang kayo itam kepada orang buruk tampa piker panjang maka ditujahkannya keris tersebut kebadan rang kayo gemuk maka tewas lah rang kayo gemuk dengan senjatanya sendiri “ senjata makan tuan “. Selamat lah rang kayo itam dari niat busuk rang kayo gemuk.

Back To Top